Debat kandidat wakil presiden episode ketiga telah usai. Belbagai manuver dan strategi politik telah dilakukan oleh kedua pasangan calon. Mulai dari menggaet ulama, mendatangi tokoh-tokoh, blusukan, membuat konsolidasi yang berbuah koalisi, hingga kartu-kartu sakti.
Pilpres bisa diibaratkan filosofi bunga mawar “ia berduri bukan untuk melukai, namun untuk melindungi. Jangan takut untuk terlihat tegas, galak atau berani. punya ketegasan itu penting, tegas dalam hal menyingkirkan kebusukan dan melindungi terhadap rakyat jelata. Yah begitulah. Pemilihan presiden selalu menjadi topik menarik untuk didiskusikan.
Sayangnya, beberapa waktu ini indonesia dihadapkan dengan berbagai macam problem yang mencedarai semangat demokrasi. Mulai dari terorisme dan penembakan massal warga muslim yang terjadi di selandia (Phobia Islam), hingga bencana yang terjadi di pelosok timur, Lombok Timur dan Sentani.
Kini dilayar kaca berbondong-bondong mengucapkan belasungkawa bencana yang terjadi di pelosok negeri. Mulai dari artis, Da’i, politisi, pejabat, hingga presiden. Hemat penulis seyogianya pemerintah lebih memperhatikan kawan kita yang berada di pelosok negeri baik dari segi pendidikan, rumah sakit, pembangunan, dan jangan hanya berpusat di ibu kota.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top