Dalam
sebuha riwayat, diceritakan bahwa Rasulullah Saw. tidak pernah meninggalkan
shalat Tahajjud semasa hidupnya hingga beliau wafat. Bahkan dalam riwayat yang
lain, beliau mewajibkan bagi bagi diri beliau untuk selalu melaksanakan shalat
sunnah ini. Sekiranya tidak memberatkan umatnya, beliau menghendaki agar shalat
Tahajjud juga diwajibkan bagi kaumnnya. Namun sebagaimana kita ketahui, shalat
Tahajjud hanya diwajibkan selama dua belas bulan, terhitung sejak turunnya ayat
pertama surat Al – Muzammil hingga turunya ayat ke-20.
Dalam
sebuah hadist, Aisyah Ra. Berkata, “pada suatu malam, Rasulullah Saw. shalat di
masjid, lalu kemudia pada malam selanjutnya, semakin banyak kaum muslim yang
ikut shalat bersama beliau. Pada malam yang ketiga dan keemapat, banyak sekali
orang berkumpul menunggu Rasulullah Saw. Pada pagi harinya, beliau bersabda,
‘aku melihat yang kalian lakukan. Sebenarnya, tidak ada yang menghalangiku
keluar untuk shalat bersama kalian, kecuali karena aku khawatir kalau hal ini
akan diwajibkan atas kalian.”
Untuk
menunjukkan betapa pentingnya shalat sunnah ini, Allah SWT berfirman dala QS.
Al – Muzammil {73}: 1-4 dan QS. Al- Israa’ {27}: 79. Shalat Tahajjud memiliki
manfaat bagi kesehatan seseorang.
Menurut
Mohammad Sholeh, Shalat Tahajjud memberikan sebuah peluang untuk menelaah lebih
lanjut mengenai hubungan praktik ibadah mahdah
dengan alur logika dan pembuktian sains. Untuk membuktikan kebenaran hadist
tersebut, Mohammad Sholeh , yang merupakan seoran dosen Fakultas Tarbiyah IAIN
Sunan Ampel Surabaya, akhirnya melakukan sebuah penelitian terhadap para siswa
SMU Lukman Hakim, Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya, yang secara rutin
menunaikan shalat Tahajjud. Hasil sungguh luar biasa, sebagaimana hipotesis
awalnya, shalat Tahajjud memang korelasi dengan kesehatan seseorang.
Shalat
tahajjud yang dilakukan pada penghujung malam yang sunyi, kata Mohammad Sholeh,
bisa mendatangkan ketenangan. Sementara, ketenangan itu sendiri terbukti mampu
meningkatkan ketahanan tubuh imuoligik, mengurai risiko terkena penyakit
jantung sekaligus meningkatkan usia harapan hidup. Sebaliknya, bentuk-bentuk
tekanan mental, seperti stres maupun depresi, membuat seseoran rentan terhadap
berbagai penyakit, infeksi, serta mempercepat perkembangan sel kanker dan
meningkatkan (penyebaran sel kanker).
Tekanan
mental itu terjadi akibat gangguan irama sirkadian (siklus bioritmik manusia)
yang ditandai dengan peningkatan hormon kortisol. Perlu diketahui, hormon
korsitol ini biasa dipakai sebagai tolak ukur untuk mengetahui kondisi
seseorang bahwa jiwanya sedang terserang stres dan depresi atau tidak.
Menurut
Mohammad Sholeh, stres bisa dikelola dan pengelolaan itu dapat dilakukan dengan
cara edukatif, tekni relaksasi, atau perenungan/tafakkur, serta umpan balik
hayati (bio feed back). Sebagaimana
kita ketahui, shalat tahajjud mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga
dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stres yang mampu
meningkatkan ketahan tubuh secara natural.
Untuk
mendapatkan manfaat tersebut, shalat Tahajjud haruslah dilakukan secara ikhlas
dan istiqamah. Sebaliknya, jika shalat Tahajjud tidak dilaksanakan secara
ikhlas dan istiqamah, justru mendatangkan stres. Hal ini pernah ditegaskan oleh
Mohammad Sholeh kepada Republika. Ia
berkata , “bila tidak dilaksanakan dengan ikhlas, bakal terjadi kegagalan dalam
menjaga homeostatis atau daya adaptasi terhadap perubahan pola irama
pertumbuhan sel yang normal. Tetapi, jika dijalankan dengan ikhlas dan
istiqomah maka akan terjadi sebaliknya.
Pada
akhirnya, keikhlasan dalam menjalanka shalat tahajjud menjadi sangat penting.
Selama ini, banyak Kiai dan intelektual berpendapat bahwa ikhlas merupakan
persoalan mental-psikis. Artinya, hanya Allah SWT. Yang mengetahui dan mustahil
dapat dibuktikan secara ilmiah. Namun, melalui peneletiannya, Mohammad Sholeh
berpendapat lain, ia yakin secara medis, ikhlas yang dipandang sebagai sesuatu
yang misteri itu bisa dibuktikan secara kuantitatif melalui indikator sekresi
hormon kortisol.
Terimakasih
telah mengunjungi blog pustaka ilmu, blog ini bertujuan untuk menambah
referensi dan cakrawala ilmu pengetahuan bagi pembaca. Penulis tidak memberikan
asal-asalan terhadap artikel blog ini maka dari itu sebijaknya penulis
memberikan sumber atau daftar pustaka.
Sholeh,
Mohammad. 2006. Terapi Shalat Tahajjud.
Bandung: Hikmah.
Umarah,
Mustafa Muhammad. 1994. Jawahiru
al-Bukhari. Beirut: Darul Dikr
Arifin,
Yanuar. 2012. Basmi Ragam Kanker dengan
Shalat Tahajjud. Jogjakarta. Najah.
Wawasanilmiah32.blogspot.com

0 komentar:
Posting Komentar