Siapa yang tak mengenal Ustadz  Dr. Muhammad Yahya Waloni ia merupakan Mantan Pendeta, yang meresehkan berbagai banyak pihak baik dari Partai Politik PDIP, personal yakni Megawati, Tuan Guru Bajang, dan lebih banyak lagi kasus yang ingin memencarai beliau. Yahya Waloni dilahirkan di kota Manado, 30 November 1970. Pada tanggal 18 Ramadhan 1427 Hijriah atau tepatnya pada hari Rabu 11 Oktober 2006 beliau mempunyai tiga orang putra dan satu istri.
Sebelum beragama islam beliau adalah seorang pendeta (Pelum) GKI di Tanah Papua, Klasis Raja Ampat – Sorong Kepulauan – Profinsi Irian Jaya Barat. Beliah juga pernah menjabat Ketua/Rektor STT. Calvinis  Ebenhaezer – Sorong sejak tahun 1997-2004. Selanutnya, pada tahun 2003 beliau meningkatkan status STT. Calvinis ketingkat Universitas yang saat ini dikenal dengan Universitas Kristen Papua (UKIP) – Sorong. Pada tanggal 28 Januari 2004 beliau mengundurkan diri dari Universitas Kristen Papua (UKIP).
Tanggal 10 Februari 2004 beliau ditugaskan oleh pihak Gereja Kristen Pemancar Injil (GKPI) Tarakan. Beliau bertugas memimpin jemaat di desa Long Telenjau, Kab. Tanjung Selor –Propinsi Kalimantan Timur. Disamping tugas kependetaan, beliau mengabdikan diri sebagai dosen di Universitas Balikpapan (UNIBA) – tahun 2005 – 206.
Beliau menyelesaikan studi S-1 Teologi di STT Calvinis Ebenhaezer- Manado (Th. 1996). Tahun 2000 menyelesaikan studi S-2 Teologi dan Program S-3 Filsafat di Institut Theologi Oikumene Imanuel (ITOI) Manado. Ketika masih pendeta beliau sangat digemari oleh para jemaat Kristen dalam hal berkhotbah, baik di Papua, Manado, Balikpapan, Tarakan, dll.
Suatu hari Yahya Waloni dan sekeluarga menonto serial kartun “Popeye the Sailor Man”. Serial kartun “Popeye” menghadirkan dua orang tokoh yang sama-sama memiliki rasa cinta terhadap seorang gadis yang bernama Olive. Sepintas dari peristiwa cinta itu, terkesan Olive lebih cenderung mencintai Popoye ketimbang Brutush. Cerita perebutan kekasih antara Popeye dan Brutush diwarnai dua kekuatan, yakni kekuatan fisik dan intelejensi. Namun saying, dalam persaingan (kompetisi) memperebutkan Olive, tampak sekali kecurangan Brutush, dengan segala corak cara yang licik (no sportife) berupaya mengalahkan Popeye sang pelaut. Akibatnya, dari awal hingga pertengahan cerita Brutush gembira, tertawa, dan terbahak-bahak karena dapat mengalahkan Popeye; dan Olive berhasil direbutnya dari tangan Popeye dengan cara yang tidak sportif.
Setiap kali Olive dibawa kabur oleh Brutush, Olive meronta-ronta memohon pertolongan Popeye (kekasihnya), sementara Popeye, sekalipun memiliki tubuh yang jauh lebih kecil disbanding Brutush, tetap berusaha sekuat tenaga disertai prinsip dan keyakinan untuk dapat mengalahkan sekaligus merebut kembali Olive dan tangan Brutush.
Setelah menelan saos bayam, Popeye mendapatkan kekuatan yang sangat luar biasa; kekuatannya bertambah seribu kali dibanding Brutush. Akibatnya, Brutush yang kasar, kejam, licik, curang, dan berpostur raksasa, mampu dikalahkan oleh Popeye yang kecil, jujur, patriot, bertanggung jawab, cerdas, adil, dan memiliki kekuatan menakjubkan.
Akhirnya, Popeye menang dan berhasil merebut kembali kekasihnya (Olive) dari tangan Brutush yang kejam, serakah, dan tidak adil. Dari serial kartu itu, Muhammad Yahya Waloni mengantarnya dan berkomitmen menulis sebuah buku berjudul “KEBENARAN ISLAM MENURUT MANTAN PENDETA”.
Serial kartun (animasi) Popeye secara filosofis mengandung makna yang sangat berarti terkait realita iman dua komunitas agama yang “pernah” dan “kini” kami sekeluarga peluk serta imani, yakni Kristen (iman lama) dan Islam (iman baru dan terakhir).
Bagi Muhammad Yahya Waloni, kekuatan dan kemenangan “Popeye” adalah sebuah kekuatan yang dimiliki sekaligus dirasakan Islam dalam memperjuangkan dan memepertahankan prinsi serta keyakinan sebagai agama Allah SWT. Dalam kekuatan fisik ekonomi dan lain-lain, memang, Islam sangat lemah dan mustahil berkembang di segala aspek kehidupan serta iman. Akan tetapi, jangan lupa! Kekuatan Allah SWT yang luar biasa menyertai serta melindungi Islam. 

Daftar Pustaka :
Waloni, Yahya Muhammad. 2007.Kebenaran Islam Menurut Mantan Pendeta. Irsyar Baitus Salam.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top